Rabu, 10 Mei 2017

Puisi Indonesia

Suparji Djoko Darmono
Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



W.S. Rendra
Sajak Anak Muda

Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakkan oleh angkatan takabur

Kita kurang pendidikan resmi
Didalam hal keadilan,
Karena tidak diajar berpolitik,
Dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang
Karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
Karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
Untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
Untuk menjadi alat saja?
Inilah gambaran rata-rata
Pemuda tamatan SLA,
Pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan
Bukan pertukaran pikiran
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan
Dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan didalam pergaulan
Serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
Sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
Tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan didunia menjadi remang-remang
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
Tidak bisa kita hubung-hubungkan.

Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan
Lalu akhirnya,
Menikmati masa bodoh dan santai.

Didalam kegagapan,
Kita hanya bisa membeli dan memakai
Tanpa bisa mencipta

Kita tidak bisa memimpin,
Tetapi hanya bisa berkuasa
Persis seperti bapak-bapak kita

Pendidikan negeri ini berkiblat ke barat
Disana anak-anak memang dipersiapkan
Untuk menjadi alat dari industri
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti

Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan
Tanpa kegunaan, menjadi benalu di dahan

Gelap. Pandanganku gelap
Pendidikan tidak memberi pencerahan
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan

Gelap. Keluh kesahku gelap
Orang yang hidup di dalan pengangguran
Apakah yang terjadi disekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
Lebih enak kita lari ke dalan puisi ganja

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, didalam kemabukan
Wajah berdarah
Akan terlihat seperti bulan

Mengapa harus kita terima hidul begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter
Dianggap sebagai orang terpelajar
Tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.

Dan bila ada tirani merajalela
Ia diam tidak bicara
Kerjanya Cuma menyuntik saja
Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja

Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
Dianggap sebagai bendera-bendera upacara
Sementara hukum dikhianati berulang kali

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
Dianggap bunga plastik
Sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi

Kita berada di dalam pusaran tatawarna
Yang ajaib dan tidak terbaca
Kita berada didalam penjara kabut yang memabukan
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan

Dan bila luput,
Kita memukul dan mencakar
Ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakkan oleh angkatan kurangajar

Daya hidup telah diganti oleh nafsu
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan
Kita adalah angkatan yang berbahaya















Chairil Anwar
Doa 

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
CahayaMu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling






Aming Aminoedin
Telah Kau Robek Kain Biru pada Bendera itu
Pahlawan tak dikenal

Ribuan orang bergerak sepanjang jalan
Berteriak menuju hotal Yamato tengah kota
Kibar bendera merah-putih-biru itu
Menggemuruhkan gelagak antipati pada hati
Tanpa henti tanpa kompromi

Ribuan orang bergerak sepanjang jalan
Berteriak menuju hotel Yamato tengah kota
Ribuan orang memanjat hotel itu, dan kau
Telah robek kain biru pada bendera itu
Ribuan orang bersorak, gemuruh
“Merdeka negeriku! Merdeka Indonesiaku”

Ribuan orang bergerak sepanjang jalan
Berteriak menuju hotel Yamato tengah kota
Sorak gemuruh mereka itu kian riuh
“Ini negaraku, negara tercinta, Satu Republik, Indonesia Raya!”

Hai bangsa pemabuk
Pemilik bendera merah-putih-biru
Jika tak enyah dari negeriku
Bambu runcing akan menuding mengusirmu!
Jika kau tak juga enyah
Kutawarkan semangat dan darah kami muntah
Biarkan tubuh kami berdarah-darah
Tapi kau harus berserah
Kau harus menyerah!

Telah kau robek kain biru pada bendera itu
Tinggal merah-putihnya, kian terasa indah
Di mata, mata kita semua!
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Jayalah bangsaku, Jayalah negeriku!
Jayalah Indonesiaku!

Mojokerto, 15/08/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar